Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan

Entah

Senin, Agustus 30, 2021




Sering kali rasa bingung hati...

Hujan.

Rabu, November 15, 2017


Apa Maumu?

Rabu, Mei 25, 2016





Kadang gak ngerti dengan kamu.

Benci Untuk Mencinta.

Selasa, April 12, 2016


Selasa, 12 April 2016, di pojok kamar, sedang memikirkanmu.

Akhir Yang Menggantung

Senin, September 21, 2015

Bodohnya aku, masih dapat terperangkap dalam cintamu
Cinta yang bahkan tak pernah memiliki jawaban

Betapa lalainya aku, masih dapat terbuai oleh senyumanmu
Senyum yang bahkan tidak diperuntukkan padaku lagi

Logika ini tak dapat berpikir jernih
Bahkan sekedar menghitung satu ditambah satupun aku tak tahu

Mengapa harapan ini tak pernah putus…?

Aku baru saja melihatnya, melihat kebenaran yang selama ini telah ku curigai—dan kini kau telah mengungkapkannya. Seharusnya aku lega dengan semua ini. Tetapi… mengapa hanya sesak yang terasa? Melihatmu bersama orang lain membuat jantungku serasa berhenti berdetak….


*type a title here*

Rabu, Mei 20, 2015

Dapatkah aku menjalankan hidup sendiri?
Hidup tanpa ada hujatan dari orang disekitar

Aku tahu semua itu ‘mungkin’ memang benar
Tapi akan tidak jadi benar jika berkelakar
Semua itu akan diterima dengan sukar
Hanya dapat dihadapi dengan sabar

Perang tidak dapat dihindari
Kamu bersama dan aku sendiri
Aku tak akan pernah berlari
Jadi akan mudah dicari

Menghakimi bukanlah suatu permecahan masalah
Semua akan terlihat dimata salah
Hanya membuat hati dan fisik lelah
Semua tak ada yang mengalah

Ejekan itu bagaikan bola, bundar dan tak ada habisnya
Meskipun pada dasarnya apa yang dibicarakan itu hanya satu topik
Sulit menyeleweng ke arah lain, hanya berputar-putar tak menentu

Pada akhirnya tidak ada solusi terbaik, hanya dendam tersisa

Let It Flow

Senin, Maret 09, 2015

Let it flow…
Biarkan semua itu seperti apa adanya
Tak tersentuh oleh tangan yang selalu merusak
Biarkan itu semua berjalan
Izinkan kodrat alam untuk bertindak

Let it flow…
Tidak perlu ada yang dipaksakan
Semua kejujuran maupun kebohongan itu sama
Disini aku tak memerlukan itu semua
Karena semua sama, hanya membuatku semakin hancur

Let it flow…
Rasanya sulit sekali melihat takdir tak berpihak
Tapi, apalah aku ini
Hanya sebutir debu diatas berlian
Terlalu berharap lebih, padahal tak pernah diharapkan

Let it flow…
Aku akan membiarkan itu semua berjalan seperti ini
Meskipun aku akan tetap selalu menanti
Duduk disini sendiri
Diam tanpa arti

Karena akan ada saatnya, semua penantian ini berakhir bahagia….


Untukmu.

Selasa, Februari 03, 2015

Kau membuatku bertahan, dari semua rintangan yang aku hadapi. Kau membuatku bertahan, dari semua hal negatif yang menerpa hidupku.

Kau membuatku jatuh cinta, hingga ku tak sadar akan hal itu.

Kau membuatku menanti, hingga aku lupa akan waktu.

Kau membuatku selalu memikirkanmu, hingga aku tak tahu berapa detik yang aku habiskan hanya untuk melamunkan dirmu.

Aku tak tahu perasaan darimana dan macam apa ini. Aku tak pernah mengerti.
Atau mungkin lebih tepatnya… berusaha untuk tidak mengerti.

Haruskah aku jelaskan semuanya?
Haruskah aku katakan semuanya tanpa isyarat maupun jeda?
Apakah kau tak pernah mengerti apa itu yang disebut dengan “kiasan”?

Kau tahu? Sakit hati ini menunggumu.
Kau tahu? Merana jiwa ini karenamu.

Aku telah berusaha, untuk menjaga perasaan ini
Aku telah berusaha, untuk tetap tenang diam diposisiku sekarang ini
Aku telah berusaha, untuk tidak egois memikirkan diri sendiri

Namun apakah itu tidak terlalu jahat? Ketika aku sedang diam ditempat, sedangkan kau bersenang-senang dengan yang lain.

Hati ini terlalu rapuh untuk mempertahankan semua ini,
Namun kau jangan khawatir, aku akan selalu disini

Menunggumu

Hingga senja telah pudar warnanya
Hingga tanah bersatu dengan raga
Hingga hati yang rapuh ini hancur tak bersisa.

Puisi Malam

Rabu, Januari 28, 2015



Semua sudah berlalu
Layaknya hilang dimakan benalu
Segalanya sudah tidak berarti
Bagaikan seekor semut yang mati

Aku berdiri disini
Bersama hal yang tak pasti
Menatap lagit tinggi tinggi
Tapi tak memiliki arti

Berbagai kiasan sudah kukeluarkan
Kini tak ada yang kusembunyikan
Bahwa aku terlalu merindukanmu
Bahwa aku sangat mencintaimu

Namun semua sudah terlambat
Hatimu sudah tertambat
Haruskah aku menangis tersedu sedu
Atau berpijak pada jalan penuh dengan paku

Rindu

Selasa, November 11, 2014

               3 bulan telah berlalu, dan aku masih tak dapat menyingkirkanmu dari bayangku. Semua memori itu masih ada, terkenang dengan baik dan tersusun rapi layaknya album foto. Aku merindukanmu, sungguh. Kenyataan ini masih tak dapat kuterima dengan nalar, maupun hati. Kau benar-benar menghilang, pergi meninggalkanku. Hingga kenangan ini selalu menyeruak masuk kedalam skema film yang selalu berputar dikepalaku. Hingga kerinduan ini membuatku sesak, buta, tuli, bisu, dan hingga akhirnya aku mati tak berdaya.

            Aku hanya dapat mengenang itu semua, disini, di tempat kita terbiasa untuk bertemu, berkeluh kesah, memikirkan nasib kita yang sama setiap harinya. Mengeluh akan lelahnya kehidupan yang kita miliki masing-masing. Terkadang kita akan bercakap-cakap tentang rencana kita kedepan—yang pada saat itu aku yakini akan aku jalani bersamamu. Terkadang kita hanya bersenda gurau membicarakan hal tanpa arti, namun dapat menghibur hati yang sedang gundah gulana. Semua itu terlihat sangat monoton, bahkan tak jarang kita mengungkapkan kebosanan kita satu sama lain.

            Apa kau tahu? Dibalik kebosanan itu, dibalik hal yang aku sebut monoton itu, kepedulianku padamu selalu ada, dan akupun yakin kau juga peduli padaku. Kau tahu? Monoton itu hanya apa yang aku, kamu, dan semua orang lihat. Bosan itu hanya sekedar apa yang orang dengar. Tapi perasaan itu tidak. Hati ini tak akan bosan dengan pertanyaan yang sama. Hati ini tak pernah bosan dengan senda gurau yang selalu kamu ulangi setiap harinya. Hati ini tak mungkin bosan dengan sapaan yang selalu muncul setiap pagi, dengan kata-kata yang rutin dan di jam yang sama.

            Kau tahu? Aku rindu. Rindu akan canda dan tawamu. Aku rindu. Rindu akan sapaan-sapaanmu. Aku rindu. Rindu akan keluhan yang selalu kau ucapkan padaku setiap malamnya. Kau selalu bilang bahwa dirimu lelah. Kegiatan disekolah terlalu padat, membuatmu tak mendapatkan istirahat yang cukup. Anehnya, kau mengatakan itu pada jam malam tidur, yang seharusnya kamu pergunakan sebagai waktu untuk istirahat. Aku senang, mungkin kau mendeskripsikan kata istirahat dengan berbeda.

            Rinduku ini tak dapat dideskripsikan dengan kata-kata. Dan ini hanyalah sepenggal kenangan masa lalu yang indah.

Aku Tak Tahu.

Minggu, September 07, 2014

Terikat dalam sebuah perasaan yang tak dapat dideskripsikan dengan kata-kata, aku hanya dapat diam memandang langit hitam yang menaungiku selama ini. Berharap bahwa akan ada matahari setelahnya, berharap bahwa dia akan sadar jika aku ada disini. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku lemah tak berdaya, hanya dapat mengharapkan sesuatu yang mungkin tak akan pernah menjadi sebuah kenyataan. Mengharapkan dia kembali rela membagi waktunya untukku, mengharapkan dia akan kembali menjadi dia yang ada di masa lalu.

Aku berada di dalam sebuah ruangan hampa, tanpa cahaya maupun suara. Semua tampak sama dihadapanku. Hitam, gelap, sepi, bahkan tak terdengar desiran angin sekalipun. Disini, aku hanya bersama buliran-buliran air yang jatuh dari mataku. Disini, aku hanya dapat meratapi kesedihan ini, sendiri. Tanpa dapat membagi kesedihan ini dengan siapapun. Aku terlalu gengsi untuk memperlihatkan betapa rapuhnya diriku di depan semua orang. Aku terlalu kuat untuk menutupi ini didepan siapa saja yang melihatku. Namun hatiku bukanlah besi yang hanya dapat lebur jika dipanaskan dalam suhu 1538 derajat celcius. Karena aku hanyalah manusia biasa yang tak dapat mengutarakan semuanya langsung dengan ucapan, aku tak se berani itu.

Aku ingin pergi kemana aku semestinya pergi sekarang, denganmu. Aku ingin mengulang semua masa yang pernah kita lewati. Aku ingin merasakan canda tawa yang pernah aku rasakan dulu saat bersamamu. Semua masih melekat dalam pikiranku, tak akan terganti oleh apapun juga. Ketika itu, kau memang sangat cuek padaku. Kau tak peduli jika aku jatuh ketika aku sedang berlari kencang hanya untuk mengejarmu. Ketika itu kau tak peduli jika aku sedang bingung dengan soal matematika yang aku anggap itu sangat sulit, se sulit mengetahui perasaanmu yang sebenarnya kepadaku. Ketika itu, se sulit apapun rintangan yang aku hadapi, aku tetap senang. Karna aku tahu kamu masih ada di belakangku, meskipun hanya untuk menertawakanku atau diam tak peduli.

Aku masih ingat pertemuan pertama kita, pertemuan kedua, ketiga, dan hari-hari yang aku jalani bersamaamu. semua masih terekam manis dalam memoriku. Semua itu bagaikan sebuah film yang selalu berputar diotakku setiap kali aku mengingatmu. Mungkin memang di pertemuan pertama kau terlihat tidak peduli, namun aku tahu itu bukanlah dirimu yang sebenarnya. mungkin kau hanya risih karna kau baru saja mengenalku.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku terlalu larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Yang mungkin tak akan ada habisnya, kecuali jika kau ada didekatku.

Theme by: Pish and Posh Designs